Showing posts with label environmental movement. Show all posts
Showing posts with label environmental movement. Show all posts

Friday, November 29, 2013

Melalui Pesan Agama, Penyadaran Konservasi Air dan Lingkungan Lebih Efektif

Hasil penelitian yang berhasil diterbitkan di Jurnal Oryx di Inggris pada pertengahan November ini menunjukkan bahwa perhatian yang lebih besar harus diberikan untuk meningkatkan kesadaran tentang hubungan antara Islam dan konservasi.

Jakarta (UNAS) - Pelestarian alam dan lingkungan di wilayah Indonesia, kini masih terus menjadi perhatian para peneliti, baik peneliti Indonesia maupun peneliti asing dari berbagai negara. Kali ini tim peneliti yang terdiri dari Fauna dan Flora International (FFI), Conservation International (CI) dan Durrel Institute of Conservation and Ecology (DICE), University of Kent dan Islamic Foundation for Ecology and Environmental Science (IFEES) melakukan penelitian dan uji coba terkait tingkat kesadaran warga terhadap pelestarian lingkungan melalui pemahaman agama di Sumatera Barat.

Melalui hasi uji tersebut terlihat bahwa pemahaman tentang keagamaan dan juga lingkungan masyarakat di Sumatera Barat lebih meningkat, dengan cara memberikan dakwah lingkungan tentang hal yang terkait pada agama dan upaya-upaya muslim dalam melestarikan lingkungannya. "Pada dasarnya masyarakat mempunyai pemahaman yang cukup memadai tentang konservasi, namun akan lebih kuat dan meyakinkan apabila pengetahuan mereka terhubung dengan keyakinan agama." ujar Dosen Fakultas Biologi UNAS yang menjadi salah satu peneliti dalam publikasi internasional tersebut, Dr. Fachruddin Mangunjaya, Minggu (24/11).

Lebih lanjut, Fachruddin mengungkapkan bahwa hasil penelitian yang berhasil diterbitkan di Jurnal Oryx di Inggris pada pertengahan November ini menunjukkan bahwa perhatian yang lebih besar harus diberikan untuk meningkatkan kesadaran tentang hubungan antara Islam dan konservasi, bukan pada prinsip-prinsip konservasi saja. Dalam survey tersebut, peneliti mengembangkan khotbah bertema konservasi air yang disampaikan oleh pemimpin agama di 10 masjid dan sembilan Pesantren Ramadhan selama bulan suci Ramadhan tahun 2011.

Tidak hanya itu, penelitian yang berjudul "Practise what you preach: a faith-based approach to conservation in Indonesia" ini juga memberikan indikasi akan pentingnya melibatkan kaum perempuan agar dapat berpartisipasi dalam proyek berbasis agama. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan agar perempuan dapat dilibatkan untuk berkontribusi kegiatan konservasi. "Responden perempuan menunjukkan pemahaman yang lebih tinggi tentang ajaran Islam tentang jasa lingkungan dan layanan yang diberikan oleh hutan dan sungai yang bersih. Selain itu, proyek-proyek masa depan harus berusaha untuk melibatkan kelompok stakeholder yang terpinggirkan ini, serta memberikan cara-cara praktis untuk pria dan wanita untuk mengubah kata-kata menjadi tindakan," jelas Fachruddin.

Berdasarkan penelitian ini didapatkan bahwa ajaran berbasis agama terhadap lingkungan telah diidentifikasi sebagai bentuk berpotensi efektif dalam menjangkau aksi konservasi, namun sebagian besar masih belum teruji. Indonesia memiliki 10 % hutan hujan tropis dunia dan merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar. Oleh sebab itu pendekatan berbasis agama untuk konservasi dapat membawa manfaat yang signifikan.

Links


Practise what you preach: a faith-based approach to conservation in Indonesia
Jeanne E. McKay,Fachruddin M. Mangunjaya,Yoan Dinata,Stuart R. Harrop and Fazlun Khalid
Oryx, http://journals.cambridge.org/action/displayAbstract?aid=9067642

Monday, September 2, 2013

Kunjungan MUI ke Tesso Nilo dan Rimbang Baling


Tabayyun Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk  Melihat Konflik Satwa dan Manusia di Riau


Perjalanan ke Riau meninjau lapangan dengan membawa tim Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), 30 Agustus -1 September 2013, dalam rangka kunjungan lapangan, membawa makna tersendiri. Terlebih ini merupakan kunjungan pertama kali bagi masing-masing individu tim fatwa. Adapun tim Fatwa ini yang ikut serta adalah: KH Dr. Ma’rifat Iman, Prof Nahar Nachrowi, KH Nasir Zubaidi, Prof Amany Lubis dan Dr Hayu Prabowo (Ketua Pusat Pemuliaan Lingkungan dan Sumber Daya Alam, MUI). Beberapa dari mereka adalah orang yang memang sangat senior dan boleh dikatakan sepuh, tapi bersemangat. Misalnya Prof. Nahar Nachrowi (70 tahun), tetap mengikuti kegiatan, berjalan di tengah hutan Tesso Nilo dan masuk hutan melalaui perahu, bertemu penduduk di Stasium Riset Pasir Subayang yang baru dihuni oleh WWF dan beru berusia empat bulan ( didirikan sejak awal Mei 2013).
 
Tim Fatwa MUI Pusat dan MUI Riau saat kunjungan
ke Pemandian Gajah Sumatra di TN Tesso Nilo

Perjalanan dimulai dari Pekan Baru, singgah berdiskusi di kantor WWF Riau dengan tema Dialog MUI dan Pemangku Kepentingan dalam Rangka Pembahasan Fatwa Pelestarian Harimau dan Satwa Langka Lainnya untuk mendapatkan masukan dari berbagai stakeholders Riau yang dihadiri dari Dinas Kehutanan Propinsi Riau, Balai Konservasi dan Sumberdaya Alam (BKSDA), Jikalahari, Kejaksaan Tinggi Riau, WWF, MUI Riau, Universitas Nasional, Harimau Kita, Ice of Forest, dll.

Dialog diadakan untuk menampung segala inspirasi terkait dengan pelestarian harimau dan gajah, serta hutan alam dengan segala kompleksitasnya. Kemudian dilanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Tesso Nilo pada pagi hari Sabtu (31/8), dan melintasi hamparan kebun sawit serta di sepanjang jalan yang nampak tidak putus-putus. Kami singgah sebentar di Polres Ukui, Kabupaten  Pelalawan, untuk mendapatkan pendampingan dan sekaligus laporan. Siang tiba di Tesso Nilo, kemudian menyaksikan korban konflik gajah dan manusia. Sebuah pondok roboh, beberapa tahun yang lalu karena di dorong oleh gajah. Pohon sawit yang dirambah gajah dan pondok kosong ditinggalkan penghuninya karena konflik dengan gajah.


Malamnya kami berdialog dengan Penduduk sekitar Tesso Nilo yang datang dalam rombongan cukup banyak 40 -60 orang. Diskusi dilakukan dengan dialog terbuka dan jujur dan banyak ‘curhat’ atau komplain soal ‘kenakalan satwa’ yang merambah tanaman dan kebun  manusia. Keesokan harinya (1/9), kami menuju Kawasan Margasatwa Rimbang Baling yang letaknya ke arah Timur Laut  dari Tesso Nilo. Sejenak, kami berhenti menyaksikan kerusakan hutan di KM 67, Bukit Horas, menyaksikan perambahan hutan Tesso Nilo yang sangat masif dan mengakibatkan hutan taman nasional yang dilindungi itu bertambah menyempit, terjepit ditengah areal Hutan Tanaman Industri (HTI) milik
RAPP. Menurut informasi yang kami peroleh, kawasan ini telah dirambah sejauh ribuan hektar oleh kebun-kebun sawit.  Detik Com mengeluarkan berita pada hari yang sama kami berkunjung: “
Gawat! Ribuan Hektar Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo di Riau Dijarah. Sejauh mata memandang, tidak ada lagi hutan alam yang tersisa. Dan Tesso Nilo sebenarnya sudah sangat kritis dalam perambahan yang sangat masif dan terjadi pembiaran ini.
   

Kami terus menuju Suaka Margasatwa Rimbang Baling, menelusuri Sungai dan singgah ke stasiun riset WWF di Pasir Subayang, Rimbang Baling. Disini masih dijumpai hutan yang masih asli, jauh berbeda dari pemandangan di Tesso Nilo yang penuh sawit. Dialog dilakukan dengan sekitar 40 warga dari tiga desa sekitar yaitu Muara Beo, Tj Delik dan Desa Gema, Kecamatan Kampar Kiri. Acara tersebut dihadiri oleh tokoh adat, pemangku desa, Kapolsek Kampar Kiri. Penduduk di kawasan ini 90% bertani karet, dan masih menjunjung tinggi adat. Mereka juga menerapkan sistem
lubuk larangan, untuk pemanenan ikan secara berkelanjutan.
Dalam dialog dengan masyarakat, saya mencatat tentang tingginya respek para tokoh adat dan agama di Rimbang Baling terhadap MUI. Mereka mengatakan, sangat bersyukur desa mereka dikunjungi dan meminta bimbingan moral MUI dalam mengarahkan kehidupan keagamaan di kampung mereka yang dianggapnya sudah mulai mengalami degradasi moralitas.

WWF memeliti, kawasan Margasatwa Rimbang Baling masih mempunyai populasi harimau yang signifikan dan tutupan hutan yang relatif baik. Perjalanan di kawasan ini, dengan menyusuri sungai, mengingatkan saya pada Taman Negara Malaysia yang juga menuju ke kawasannya melalui sungai.

Para ulama dari MUI, saya yakin, kemudian akan mampu menangkap kesan mendalam tentang seluruh tantangan yang terjadi di lapangan dan kendala dalam melestarikan satwa liar ini. Mudah mudahan, nanti akan muncul rekomendasi dan kajian mendalam serta fatwa atas pertanyaan kami untuk melibatkan umat Islam dalam melestarikan satwa melalui keyakinan dan membantu kelestarian makhluk terancam punah, menjadi tetap lestari dan dapat hidup berdampingan dengan manusia. Wallahu a’lam.

Monday, July 8, 2013

Muzakarah Kesedaran Alam Sekitar di IKIM Malaysia


Pemaparan tentang Kurikulum Agama Dalam Pendidikan Kesedaran Alam Sekitar

Institute kesefahaman Islam Malaysia (IKIM), mengundang saya untuk memaparkan tentang : Kurikulum Agama dalam Pendidikan dan Kesedaran Alam Sekitar: Pengalaman Indonesia, judul ini saya paparkan dalam “Kertas Kerja disampaikan pada  Muzakarah Pakar “Komuniti Islam Dalam Pendidikan dan Kesedaran Alam Sekitar” 2 Juli, 2013.  Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM), Malaysia. Perhatian ini  sekarang menjadi kajian dan daya tarik di Malaysia, karena mereka merasa masih harus menggiatkan keterlibatan masyarakat dengan melalui pendekatan agama Islam terutama di kampung pedesaan dan penanganan lingkungan. 
Muzakarah ini menjadi sangat penting karena secara perlahan perhatian pada pelibatan komunitas agama dirasa sangat diperlukan dan ditingkatkan. WWF Malaysia, misalnya telah mencetak buku-buku Islam dan Alam Sekitar, tahun ini, dan dikeluarkan oleh IKIM, sebuah lembaga penting di Malaysia terkait dengan riset dan pendalaman peradaban Islam dan perkembangan kebangsaan Malaysia. Saya belum menemukan lembaga serupa IKIM di Malaysia, lembaga ini sangat unik dan khusus untuk mengkaji tentang keislaman tetapi dalam kerangka amanah negara dan didirikan oleh negara dan mendapat perhatian langsung dari Perdana Menteri. Mungkin padanannya di Indonesia adalah Litbang Kementerian Agama. Lembaga ini selain mempunyai publikasi dan kajian, juga mempunyai stasiun radio dan televisi online (tvikim.my).
Program di IKIM sangat padat dan berharga untuk menjaga Tamadun Islam yang baik, disinilah kiranya kehebatan Malaysia dimana Umat Islam di Indonesia bisa belajar, para intelektualnya dihargai dan diberikan wadah untuk berpikir dan menuangkan gagasan menyelaraskan dan membangun peradaban khas Islam di Malaysia.

Thursday, November 15, 2012

Kampanye Perubahan Iklim: The Climate Reality 24 Hour

Front Page the Climate Reality 24 Hour
Kampanye besar dilakukan untuk melakukan perubahan perilaku dalam menghadapi perubahan iklim oleh The Climate Reality Project yang dipimpin oleh Al Gore. Kamis (15/11) atau Rabu Waktu Amerika, dimulai kampanye 24 jam selama sehari penuh atau dua hari dengan dua paruh waktu di permukaan bumi untuk melakukan penyadaran terhadap perubahan iklim.

Sangat terasa waktu berlalu begitu cepat, enam tahun lalu ketika Al Gore meluncurkan An Inconience Truth(2006) namun peristiwa naas perubahan iklim telah berlangsung dan tanpa dapat dicegah karena ini merupakan peristiwa besar diluar kesenggupan manusia, kecuali kekuatan kolektif bangsa-bangsa sanggup bersepakat untuk segera melakukan perubahan. Yang terakhir adalah berdoa, semoga Tuhan masih menyayangi bangsa manusia!

Mungkin itulah sebabnya agama diperlukan untuk berbicara dalam 24 Reality kali ini. Kampanye ini menarik puluhan ilmuwan berkaliber dari berbagai bidang, insiyur, arsitek, penerima nobel perubahan iklim, aktifis lingkungan, budayawan, pengusaha hingga ahli sosial media dan new media dan semua lini profesi kehidupan dari berbagai belahan bumi untuk berbicara tentang realitas dan apa yang telah dilakukan menghadapi perubahan iklim.
Saya bersama Dr Amanda Katili Niode, mentor TCRP dan Adeline dari Inconvenience Youth diundang untuk memberikan spektrum tentang apa yang dilakukan di Indonesia dan kejadian-kejadian 'realitas iklim' yang tengah terjadi di Indonesia. Saya memberikan jawaban atas pertanyaan tentang apa yang dilakukan komunitas di Asia Tenggara dan saya jawab dengan kerucut pada Indonesia, sebagai contoh, termasuk kalangan untuk komunitas agama, termasuk Islam. Pertanyaan yang menarik dilempar kepada saya soal: Apa hubungannya antara Agama dan Konservasi? yang saya jawab dengan kedekatan kita berbicara konservasi adalah paralel dengan misi agama yaitu melestarikan kehidupan sebagai Ciptaan Tuhan  (God Creation).   Kami berbicara di segmen 13, jam 8 malam atau atau jam 8 pagi tanggal 15 waktu USA (Lihat REKAMAN ULANG SEGMEN 13).
Video streaming by Ustream
Dr.Amanda berbicara tentang apa yang dilakukan pemerintah Indonesia dari perspektif kebijakan dan Adeline berbicara tentang naiknya air laut, pertanyaan teknis, tapi Adeline yang cerdas mampu menjawab dengan bahasa Inggris yang fasih. Saya kagum. Ayo bergerak untuk membuat perubahan dan memberikan kontribusi signifikan untuk planet bumi kita. Tabik!

 

Friday, October 26, 2012

Pendekatan Islam untuk Konservasi Lingkungan

WORLDVIEW COVET VOLUME 16 NO 3 2012
Awal Oktober ini terbit pembahasan khusus tentang Muslim Environmentalism atau gerakan lingkungan di kalangan Muslim dalam  WORLDVIEW sebuah jurnal yang sangat berpengaruh tentang agama global,  ekologi dan budaya (global religions, cultures and ecology). Jurnal menjadi special issue Islam and Ecology: Theology, Law and Practice of Muslim Environmentalism dibahas oleh pakar yang handal dalam bidang ini antara lain David Johnston dari Visiting Scholar University of Pensylvania dan Jonathan Brackopp ahli guru besar  dari Univ Pennsylvania State University yang memberikan kata pengantar pada special issue edisi khusus ini.

Kontent dalam jurnal ini cukup komprehensip sehingga sebagai berikut:

Saya memberikan kontribusi bersama Jeann McKay untuk membagi tentang pengalaman pengembangan penyadaran konservasi dan gerakan lingkungan melalui ajaran Islam di Indonesia. Praktis jurnal ini hampir seluruhnya agak streriotiope membahas Indonesia yang memang dipandang aktif dalam mengembangkan pendekatan ini.

Hal yang menarik adalah bahwa investasi pemikiran ternyata berkembang demikian lamban tetap tetap progressif, pemikiran lingkungan diletakkan oleh SH Nasr dan Iqbal tahun 1960an, sedangkan pemikiran teologisnya berkembang tahun 1980an, namun aksi-aksinya baru dapat dirasakan sekarang ini.

LINK TERKAIT

Faith matters in climate change



The Green Bible is a 2008 edition of the Christian holy book, published by HarperCollins. There are more than 1,000 references to the Earth in the Bible, and this 2008 copy is printed on recycled paper using soy-based ink.

Likewise, Islam’s Koran also contains numerous surahs (chapters) that both enlighten and command Muslims to use and not abuse the natural bounty the Earth provides. “Do not commit abuse on the Earth, spreading corruption.” (Al-Ankabut 29:36) is just one example.

Meanwhile in Bali, adherents to Hinduism, the island’s majority faith, believe in the trihita karana. This is the belief that happiness derives from the relationship between people and God, the relationship between people and people, and the relationship between people and nature.

Religious writer and scholar Fachruddin M. Mangunjaya raised a profound question in a recent paper on climate change and religion: Who were the first environmental campaigners? Answer: Followers of the world’s religions.

Fachruddin, a lecturer in biology at the National University in Jakarta, told a September 2012 climate change writing clinic for youths in Jakarta that religion had been a major mover, which had established numerous world civilizations.

Now with environmental crises and the impact of climate change casting threats on human civilization, people are returning to religious teachings and reassessing their meaning of and obligations in life.

Fachruddin, a member of the International Society for the Study of Religion, Nature and Culture (ISSRNC), cited a gathering of leaders of nine world religions at England’s Windsor Castle on Nov. 2-4, 2009. The Windsor celebration constituted a long-term faith commitment to protect the living planet.

Leaders came from the Bahai, Buddhist, Christian, Hindu, Jewish, Muslim, Shinto, Sikh and Tao faiths. They vowed to draft an action plan to address climate change based on their individual religions.

Fachruddin, who participated in the Windsor meet, listed seven key elements with which the world’s religions could meaningfully contribute toward tackling climate change.

First: religion as an institution owns useable assets. These could be property, facilities such as hospitals and houses of worship, and cash. Second: education. Children and the public at large can learn about the environment through formal and informal learning activities.

Third: wisdom. People can learn about the irrefutable, supreme value of nature from holy scripture.

Four: lifestyle. This entails adopting a simple lifestyle, holding green audits, and calculating one’s carbon footprint.

Five: media and advocacy. Spread the word through all available media outlets from print to Twitter. This includes printing holy books on certified recycled paper.

Six: partnerships. Stage activities using funds gathered from the faithful.

Seven: celebrations. Major celebrations like the annual Muslim pilgrimage can promote green action.

This seventh point led to the November 2011 publication of the Green Guide to the Hajj, to encourage Muslim pilgrims to reduce their impact on the Earth. An online version can be downloaded from www.arcworld.org    During the 2010 haj season, 2.5 million pilgrims discarded more than 100 million plastic bottles, according to Husna Ahmad, author of the guide.

The Center for Research and Community Outreach (LPPM) at the National University launched an Indonesian version in June 2012, translated by Fachruddin.

Fachruddin argues that unlike the protracted negotiations at climate change conferences, religion is free from cumbersome talk that achieves slow-moving results.

The faithful should follow the tenets of their beliefs. The question now is how to get all the faithful and the public at large to wholeheartedly accept the facts about climate change and pursue lines of action.

Nevertheless, environmentally friendly pilgrimages and eco-labeling of halal products that use low carbon energy are but two ways to get people on a massive scale to change their living behavior to reduce the impact of climate change. Faith matters in climate change and changing behavior.

The writer teaches journalism at the Dr. Soetomo Press Institute, Jakarta.

Thursday, July 19, 2012

Majelis Ulama Indonesia dan Pemuliaan Lingkungan

Sejak bulan September tahun 2010, Majelis Ulama Indonesia (MUI) membuat sebuah lembaga khusus dalam menangani soal lingkungan. 

Lembaga ini mempunyai dua tujuan seperti tertuang dalam Visi dan Misinya:Pertama, secara visi:  mengembalikan kepada ajaran Islam dalam pengelolaan lingkungan hidup dan pemanfaatan sumber daya alam melalui pembinaan umat Islam yang berkualitas tinggi (khaira Ummah) dan berakhlak mulia (akhlakul karimah) sehingga terciptanya kondisi kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan yang baik, serta memperoleh ridlo dan ampunan Allah SWT (baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur). 

Kedua, (Misi) Meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan keislaman dalam pengelolaan lingkungan hidup dan pemanfaatan sumber daya alam yang tercermin dalam tindakan dan perilaku kehidupan sehari-hari yang mengacu kepada keseimbangan antara imtaq (iman dan taqwa) dan ipteks (ilmu pengetahuan, teknologi dan seni). 

Lembaga baru ini dipimpin oleh  Hayu Prabowo, kandidat doktor ekonomi Islam,  didampingi oleh 18 pakar yang membidangi lingkungan sari ahli tata ruang hingga ahli perikanan. Sungguh baik sekali upaya ini, mudah-mudahan lembaga ini dapat membantu umat secara progresif mentarjemahkan tujuan syariah (maqasid al shariah) kedalam implementasi sehari hari dalam kerangka lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Hemat saya, terjemahan aksi lingkungan umat Islam terhadap masalah kekinian sangat teringgal jauh padahal pedoman sangat diperlukan terkait dengan kompleksitas persoalan yang bertali temali antara satu dengan yang lain.  Secara sederhana, mestinya penyelesaian dan tanggapan terhadap soal lingkungan tidak diobati secara parsial, tetapi membuat kerangka strategis dari tali temali yang rumit itu.

Kerusakan hutan dan pencemaran, terjadi atas dukungan sistem ekonomi yang tidak diawasi implementasinya secara shariah. Jadi, ekonomi Islam pun --dalam Islamic Banking---mestilah memasukkan unsur dimensi lingkungan sebagai prasyarat: Misalnya, untuk pengucuran kredit dan bantuan perbankan.  

Tentunya, sebagai sebuah lembaga baru yang memiliki potensi kuat dalam mendukung pembangunan lingkungan. Lembaga ini diharapkan dapat sangat independen dalam berbagai hal sehingga, kemuliaan dan kehormatannya dapat terpelihara dan mempunyai kredibilitas tinggi. Ketentuan independensi pendanaan, misalnya, jangan didapatkan dari sumber yang terkesan menjadi sponsor. 

Saluran pendanaan, dapat diambil dari pengendalian dan penyaluran zakat yang mestinya tidak hanya disalurkan kepada asnab delapan saja. Sebab masalah lingkungan sudah menempati  kepentingan hajat seluruh kehidupan ummat. Pendanaan di dunia muslim masih belum banyak berkembang dinamis, termasuk dalam hal pengembangan philantropi (dana amal) yang lain yang dapat disalurkan untuk perawatan lingkungan dan pembangunan kelembagaan yang mengawasi penyelenggaraan lingkungan. 
First Congress for Islamic Philantrophy di Istanbul tahun 2008, telah memberikan petunjuk bahwa lingkungan harus masuk pada lini ini. 

Tentunya sebagai aktifis lingkungan kita berharap pada lembaga seperti untuk memperkuat posisinya dengan langkah langkah antara lain:

  1. Memperkuat kelembagaan dengan penyelenggaraan program-program rutin diskusi pakar yang 18 orang tersebut. Sehingga dibuahkan pemikiran yang dinamis tentang Islam dan Lingkungan.
  2.  Memperkuat posisi kelembagaan untuk mendapatkan pendanaan yang memadai dengan sumber-sumber yang jelas dan transparan dari sumber sumber umat Islam sendiri yang independen dan sah.
  3.  Membuat program makro yang terkait dengan dimensi pembangunan berkelanjutan, yaitu dimensi ekonomi, sosial dan ekologi.
  4. Membuat prinsip-prinsip etika Islam dalam dimensi Islam dengan rumusan yang universal, kemudian rumusan yang implementatif bagi umat Islam di Indonesia.
  5.  Membuat dan bekerjasama dengan lembaga-lembaga Islam seperti Universitas Islam, kajian Islam dan Lingkungan secara mendalam.
  6.  Membuat pilot-pilot proyek yang dapat mendemontrasikan tentang dimensi Islam dan lingkungan.

Tentu saja kita sangat berharap banyak kontribusi besar lembaga ini sebagai salah satu pengemban amanah dalam ikut melestarikan lingkungan hidup sebagai warisan kemanusiaan dan amanah Allah swt. Indonesia akan menjadi contoh dunia Muslim yang lain apabila melalui lembaga ini ternyata muncul pengaruh signifikan terhadap gerakan lingkungan di dunia.

Wallahu a'lam
 

LINK TERKAIT:

Fatwa MUI tentang Pertambangan Ramah Lingkungan

Fatwa MUI Kalimantan tentang Illegal Logging dan Mining



"Penambangan dan penebangan yang merusak merugikan masyarakat dan negara adalah  haram dan uang yang diperoleh dari usaha tersebut adalah tidak sah."
  

     

Thursday, June 14, 2012

UNAS – ARC, Luncurkan Buku Haji Ramah Lingkungan Versi Indonesia


Dr. Husna Ahmed and Dr Fachruddin Mangunjaya, menjelaskan
tentang asal usul buku dan tujuannya, saat peluncuran.
Jakarta (UNAS) - Upaya mitigasi atau pengurangan atas dampak perubahan iklim harus melibatkan semua sektor sebagai suatu gerakan yang kompak, agar hasil yang dicapai untuk mengubah perilaku manusia terhadap konsumsi sumber daya alam dan implementasi gaya hidup lebih “hijau” dapat terwujud. Untuk itulah, kalangan umat beragama dapat berkontribusi untuk menyumbangkan langkah nyata, diantaranya adalah pembuatan Buku Petunjuk “Haji Ramah Lingkungan”.


Buku Panduan Haji Ramah Lingkungan, pada tanggal 2 November 2011 lalu telah ada dalam versi bahasa Inggris berjudul “The Green Guide for Hajj and Islam and Water” yang diluncurkan oleh Global One 2015 dan Eco Muslim pada Sacred Land Launch and Celebration of the Green Pilgrimage Network di Assisi, Italia, dan pada kesempatan kali ini, untuk pertama kalinya buku yang ditulis oleh Dr. Husna Ahmad, OBE tersebut diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nasional bekerjasama dengan Alliance of Religion and Conservation (ARC), United Kingdom. Kehadiran buku ini pun mendapat sambutan dan dukungan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

Dalam sambutan awal buku itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr. K.H. Ma’ruf Amin mengungkapkan bahwa Islam sangat menganjurkan perawatan lingkungan, karena bumi ini merupakan anugerah  Allah swt dan manusia sebagai Khalifah diminta untuk menjaga dan memeliharanya sebagai amanah, dan kita diminta untuk melakukan hal yang lebih baik, tidak berlebihan (melampau batas). 

“Buku Haji Ramah Lingkungan ini merupakan panduan singkat tentang ajaran Islam mengenai konservasi lingkungan bagi setiap orang yang berniat menunaikan ibadah Haji dan Umrah. Panduan ini juga memuat rekomendasi bagi Pemerintah dan Lembaga terkait untuk mewujudkan Haji dan Umrah yang lebih “Hijau” atau lebih “Ramah Lingkungan”,” papar salah satu penulis dan editor Buku The Green Guide for Hajj Edisi Bahasa Indonesia yang juga merupakan salah satu dosen Fakultas Biologi UNAS, Dr. Fachruddin Mangunjaya, pada rapat persiapan Peluncuran Buku dan Seminar Nasional Haji Ramah Lingkungan di Ruang LPPM Unas, Blok III Lantai 3, Kamis (7/6).
 

Pada kesempatan yang sama, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nasional, Prof. Dr. Ernawati Sinaga, M.S.,A.Pt mengungkapkan peluncuran buku tersebut merupakan hal positif yang dapat dijadikan sebagai langkah awal institusi Perguruan Tinggi dalam berkontribusi dengan masyarakat luas untuk perubahan perilaku lingkungan.


“Aksi nyata baik di tingkat individual maupun kolektif untuk memperbaiki lingkungan kita sangat diperlukan,” imbuh Prof. Sinaga. Sebagai salah satu contoh aksi nyata yang dijelaskan oleh Prof. Erna berdasarkan buku tersebut adalah dengan cara menanam pohon di tanah air. Pasalnya, dengan penanaman pohon itu dapat ‘menetralkan’ emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang dihasilkan dari ratusan ribu ton bahan bakar minyak pesawat untuk menerbangkan jamaah haji.
 

“Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang akan dilepaskan ke atmosfer itu akan berperan dalam penebalan selaput bumi dan menjadi penyebab adanya pemanasan global.  Oleh karena itu, emisi GRK nya lah yang harus dinetralkan oleh para jamaah haji,” ujar Prof. Sinaga. 

Buku yang dijadikan sebagai upaya mewujudkan Rencana Aksi Tujuh Tahun Mulim untuk Perubahan Iklim (Muslim Seven Year Action Plan on Climate Change) yang dikembangkan melalui kerjasama antara Alliance of Religion and Conservation (ARC) dengan United Nation Development Program (UNDP), secara resmi akan diluncurkan dalam versi bahasa Indonesia pada tanggal 14 Juni 2012 di Ruang Seminar Universitas Nasional, Selasar Blok I Lantai 3. Rencananya kegiatan tersebut akan dibarengi dengan Seminar Nasional Haji Ramah Lingkungan dihadiri oleh pembicara yaitu Drs. Ahmad Kartono,MS, Direktur Pelayanan  Haji dan Umrah Republik Indonesia, Dr Armi Susandi, Deputy Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), Ir Hayu Prabowo, MHum, Direktur Pemuliaan Lingkungan dan Sumber Daya Alam  Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Penulis Utama The Green Guide for Hajj, Dr. Husna Ahmed, OBE.    Mth/Lin