Showing posts with label climate change;. Show all posts
Showing posts with label climate change;. Show all posts

Monday, February 24, 2014

Greening the Hajj Conference, Putra Jaya Kuala Lumpur 20-21 Februari 2014



Foto bersama dengan penyaji lain: Dr Husnat Jahan, Bangladesh, Dato Seri Mohammed Iqbal, Malaysia, Dato Nik Mustafa,
Ketua IKIM,Dr Husna Ahmad, CEO Global One dan Pir Muhammad Amin ul Hasan, Menteri Agama Pakistan
"Kegiatan Indonesia dalam greening hajj, lebih maju dari negara lain,"

Menghadiri konferensi greening the hajj di Kompleks Tabung Haji, Putra Jaya, Kuala Lumpur.

Ini merupakan konferensi pertama tentang upaya-upaya melibatkan jamaah haji yang juga perlu sadar lingkungan. Ada 230 ribu jamaah haji Indonesia yang diberangkatkan setiap tahun ke tanah suci Makkah, jumlah ini adalah meliputi hampir 10 persen jumlah jamaah haji dunia. Tentunya upaya menjaga kesucian al Haramain yang dicintai oleh 1.6 miliar umat Islam di dunia perlu dilakukan. Selain itu, planet bumi, tempat semua makhluk melakukan ibadah tentunya tidak boleh mengalami degradasi terus menerus, apalagi kebangkrutan.

Maka, sebagai rukun Islam yang ke lima. Haji merupakan puncak pe
nting, mengingatkan manusia agar bergaya hidup sederhana: seperti menggunakan kain ihram, melarang membunuh makhluk hidup, mematahkan ranting, dan kegiatan negatif yang lain pada umumnya menganjurkan pada kebaikan dan perawatan terhadap kemanusiaan sekaligus alam, dimana refleksi sepenuhnya kembali ke alam terjadi ketika di Arafah. “Sesungguhnya haji itu adalah Arafah”

Dalam konteks perubahan iklim, greening the hajj, bagi indonesia adalah upaya mengurangi atau emisi gas rumah kaca yang dapat menyebabkan perubahan iklim.
Konferensi ini dihadiri oleh ramai peserta dari manca negara terutama dari negara islam, Indonesia, Malaysia, Pakistan, Banglades, India, Turki dan beberapa negara Eropa.

YBHG Sahibul Samahah Datuk Wan Jahidi bin Wan Teh, Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia menekankan tentang pentingnya haji hijau, atau green hajj ini dengan mengutif sabda Rasulullah saw bahwa Rasulllah meyukai warna hijau. Beliau juga mengutif hadist populer, tentang upaya menghijaukan bumi:

“Andaikan kiamat kiamat besok, dan ada benih yang ingin ditanam, maka tanamlam. Beliau juga mengutip hadist yang sangat penting tentang tidak upaya supaya tidak mencemari sumber air termasuk sungai, "Hindari puncak laknat, membuang sumber air. Mencemari air adalah puncak laknat"

Dari Indonesia memberikan sambutan adalah Prof Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama RI. Yang menekankan tentang perubahan iklim dan peran indonesia dalam upaya mitigasi dengan 26-41 persen, sesuai komitmen. Menekankan pula bahwa upaya greening the hajj merupakan langkah untuk menuju pada Islam yang Rahmatan lil Alamin, turut serta merawat bumi dan isinya.

Nasaruddin membeberakan upaya efisiensi dalam haji, dengan hanya membatasi satu kali perjalanan saja bagi setiap umat Islam di Indonesia dan memotong jumlah kunjungan dari 41 hari menjadi hanya 39 hari, demi efisiensi.Upaya ini juga, menurutnya akan mengurangi banyaknya penggunaan energi sesuai dengan rencana pemerintah,  ”Usaha menurunkan penggunaan bahan bakar berbasis fosil dengan mengurangi penggunaan transportasi selama haji, adalah satu alasan, selain itu juga pemerintah mendorong pada pemanfaatan energi terbarukan”
Memberikan penjelasan tentang greening the hajj Indonesia
di Malaysia kepada Prof Nasaruddin Umar

Adapun saya, memberikan presentasi tentang perkembangan kampanye haji ramah lingkungan yang baru dimulai di Indones, dalam topik “The development and dissemination of the massage greening the hajj” dengan judul presentasi Greening the Hajj for Indonesia.

Moderatornya adalah Y Bhg Dat Nik Mustapa bin Nik Hasan dan presentasi bersama saya ada Pir Muhammad Amin ul Hasan, Menteri Agama Pakistan,  Dr Husna Ahmad,  Dr. Husnat Jahan, lalu disusul Syaykh Qaribullahi Nasir Kabara, Leader Qadariyyah Sufi Movement in Africa.

Semua presenter pada umumnya menggarisbawahi aksi nyata dalam perubahan perilaku haji yang lebih hijau dan ramah lingkungan, tidak hanya selama menunaikan ibadah haji tetapi juga setelah menuaikan haji sehingga ibadahnya menjadi mabrur dan hijau, ramah terhadap lingkungan.

Presentasi dari Indonesia membawa warna tersendiri dan banyak penyajian merupakan bentuk bentuk langkah praktis yang patut ditiru negera lain, "Indonesia dalam hal ini perlu ditiru dalam langkah-langkah praktisnya mengimplementasikan upaya haji hijau.  tampak kegiatan Indonesia dalam greening hajj, lebih maju dari negara lain," turur Dr Husna Ahmad, CEO Global One.

Konfensi ini juga meluncurkan buku Penuntun Haji Hijau, dalam bahasa Malaysia. Adapun rombongan dari Idonesia adalah yang lain selain Wakil Menteri Agama, ada juga hadir, Prof Ernawati Sinaga, Purek IV Universitas Nasional, Dr Hayu Prabowo, Ketua Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam dan Ustadz H Abdussyukur Yusuf, dari Majelis Zikir Azzikra, Bogor yang mempresentasikan tentang upaya travel haji hijau dll.

Link Terkait:

Haji pun Harus Ramah Lingkungan





Thursday, November 15, 2012

Kampanye Perubahan Iklim: The Climate Reality 24 Hour

Front Page the Climate Reality 24 Hour
Kampanye besar dilakukan untuk melakukan perubahan perilaku dalam menghadapi perubahan iklim oleh The Climate Reality Project yang dipimpin oleh Al Gore. Kamis (15/11) atau Rabu Waktu Amerika, dimulai kampanye 24 jam selama sehari penuh atau dua hari dengan dua paruh waktu di permukaan bumi untuk melakukan penyadaran terhadap perubahan iklim.

Sangat terasa waktu berlalu begitu cepat, enam tahun lalu ketika Al Gore meluncurkan An Inconience Truth(2006) namun peristiwa naas perubahan iklim telah berlangsung dan tanpa dapat dicegah karena ini merupakan peristiwa besar diluar kesenggupan manusia, kecuali kekuatan kolektif bangsa-bangsa sanggup bersepakat untuk segera melakukan perubahan. Yang terakhir adalah berdoa, semoga Tuhan masih menyayangi bangsa manusia!

Mungkin itulah sebabnya agama diperlukan untuk berbicara dalam 24 Reality kali ini. Kampanye ini menarik puluhan ilmuwan berkaliber dari berbagai bidang, insiyur, arsitek, penerima nobel perubahan iklim, aktifis lingkungan, budayawan, pengusaha hingga ahli sosial media dan new media dan semua lini profesi kehidupan dari berbagai belahan bumi untuk berbicara tentang realitas dan apa yang telah dilakukan menghadapi perubahan iklim.
Saya bersama Dr Amanda Katili Niode, mentor TCRP dan Adeline dari Inconvenience Youth diundang untuk memberikan spektrum tentang apa yang dilakukan di Indonesia dan kejadian-kejadian 'realitas iklim' yang tengah terjadi di Indonesia. Saya memberikan jawaban atas pertanyaan tentang apa yang dilakukan komunitas di Asia Tenggara dan saya jawab dengan kerucut pada Indonesia, sebagai contoh, termasuk kalangan untuk komunitas agama, termasuk Islam. Pertanyaan yang menarik dilempar kepada saya soal: Apa hubungannya antara Agama dan Konservasi? yang saya jawab dengan kedekatan kita berbicara konservasi adalah paralel dengan misi agama yaitu melestarikan kehidupan sebagai Ciptaan Tuhan  (God Creation).   Kami berbicara di segmen 13, jam 8 malam atau atau jam 8 pagi tanggal 15 waktu USA (Lihat REKAMAN ULANG SEGMEN 13).
Video streaming by Ustream
Dr.Amanda berbicara tentang apa yang dilakukan pemerintah Indonesia dari perspektif kebijakan dan Adeline berbicara tentang naiknya air laut, pertanyaan teknis, tapi Adeline yang cerdas mampu menjawab dengan bahasa Inggris yang fasih. Saya kagum. Ayo bergerak untuk membuat perubahan dan memberikan kontribusi signifikan untuk planet bumi kita. Tabik!

 

Friday, October 26, 2012

Pendekatan Islam untuk Konservasi Lingkungan

WORLDVIEW COVET VOLUME 16 NO 3 2012
Awal Oktober ini terbit pembahasan khusus tentang Muslim Environmentalism atau gerakan lingkungan di kalangan Muslim dalam  WORLDVIEW sebuah jurnal yang sangat berpengaruh tentang agama global,  ekologi dan budaya (global religions, cultures and ecology). Jurnal menjadi special issue Islam and Ecology: Theology, Law and Practice of Muslim Environmentalism dibahas oleh pakar yang handal dalam bidang ini antara lain David Johnston dari Visiting Scholar University of Pensylvania dan Jonathan Brackopp ahli guru besar  dari Univ Pennsylvania State University yang memberikan kata pengantar pada special issue edisi khusus ini.

Kontent dalam jurnal ini cukup komprehensip sehingga sebagai berikut:

Saya memberikan kontribusi bersama Jeann McKay untuk membagi tentang pengalaman pengembangan penyadaran konservasi dan gerakan lingkungan melalui ajaran Islam di Indonesia. Praktis jurnal ini hampir seluruhnya agak streriotiope membahas Indonesia yang memang dipandang aktif dalam mengembangkan pendekatan ini.

Hal yang menarik adalah bahwa investasi pemikiran ternyata berkembang demikian lamban tetap tetap progressif, pemikiran lingkungan diletakkan oleh SH Nasr dan Iqbal tahun 1960an, sedangkan pemikiran teologisnya berkembang tahun 1980an, namun aksi-aksinya baru dapat dirasakan sekarang ini.

LINK TERKAIT

Faith matters in climate change



The Green Bible is a 2008 edition of the Christian holy book, published by HarperCollins. There are more than 1,000 references to the Earth in the Bible, and this 2008 copy is printed on recycled paper using soy-based ink.

Likewise, Islam’s Koran also contains numerous surahs (chapters) that both enlighten and command Muslims to use and not abuse the natural bounty the Earth provides. “Do not commit abuse on the Earth, spreading corruption.” (Al-Ankabut 29:36) is just one example.

Meanwhile in Bali, adherents to Hinduism, the island’s majority faith, believe in the trihita karana. This is the belief that happiness derives from the relationship between people and God, the relationship between people and people, and the relationship between people and nature.

Religious writer and scholar Fachruddin M. Mangunjaya raised a profound question in a recent paper on climate change and religion: Who were the first environmental campaigners? Answer: Followers of the world’s religions.

Fachruddin, a lecturer in biology at the National University in Jakarta, told a September 2012 climate change writing clinic for youths in Jakarta that religion had been a major mover, which had established numerous world civilizations.

Now with environmental crises and the impact of climate change casting threats on human civilization, people are returning to religious teachings and reassessing their meaning of and obligations in life.

Fachruddin, a member of the International Society for the Study of Religion, Nature and Culture (ISSRNC), cited a gathering of leaders of nine world religions at England’s Windsor Castle on Nov. 2-4, 2009. The Windsor celebration constituted a long-term faith commitment to protect the living planet.

Leaders came from the Bahai, Buddhist, Christian, Hindu, Jewish, Muslim, Shinto, Sikh and Tao faiths. They vowed to draft an action plan to address climate change based on their individual religions.

Fachruddin, who participated in the Windsor meet, listed seven key elements with which the world’s religions could meaningfully contribute toward tackling climate change.

First: religion as an institution owns useable assets. These could be property, facilities such as hospitals and houses of worship, and cash. Second: education. Children and the public at large can learn about the environment through formal and informal learning activities.

Third: wisdom. People can learn about the irrefutable, supreme value of nature from holy scripture.

Four: lifestyle. This entails adopting a simple lifestyle, holding green audits, and calculating one’s carbon footprint.

Five: media and advocacy. Spread the word through all available media outlets from print to Twitter. This includes printing holy books on certified recycled paper.

Six: partnerships. Stage activities using funds gathered from the faithful.

Seven: celebrations. Major celebrations like the annual Muslim pilgrimage can promote green action.

This seventh point led to the November 2011 publication of the Green Guide to the Hajj, to encourage Muslim pilgrims to reduce their impact on the Earth. An online version can be downloaded from www.arcworld.org    During the 2010 haj season, 2.5 million pilgrims discarded more than 100 million plastic bottles, according to Husna Ahmad, author of the guide.

The Center for Research and Community Outreach (LPPM) at the National University launched an Indonesian version in June 2012, translated by Fachruddin.

Fachruddin argues that unlike the protracted negotiations at climate change conferences, religion is free from cumbersome talk that achieves slow-moving results.

The faithful should follow the tenets of their beliefs. The question now is how to get all the faithful and the public at large to wholeheartedly accept the facts about climate change and pursue lines of action.

Nevertheless, environmentally friendly pilgrimages and eco-labeling of halal products that use low carbon energy are but two ways to get people on a massive scale to change their living behavior to reduce the impact of climate change. Faith matters in climate change and changing behavior.

The writer teaches journalism at the Dr. Soetomo Press Institute, Jakarta.