Monday, October 1, 2012

World Muslim Leadership Forum, London

Bersama rombongan pemudi dari Ethiopia

World Muslim Leadership Forum (WMLF) mengadakan pertemuan kedua dengan tema World Muslim Leadership Forum on Youth Leadership yang terkait dengan Pemuda dan Pembangunan Berkelanjutan (Youth and Sustainable Development). Konferensi yang diikuti oleh berbagai tokoh muslim dari berbagai negara ini membahas berbagai aspek leadership, termasuk kepeloporan kaum muda dan perubahan yang terjadi terutama di negara-negara Muslim serta keterkaitan dengan masalah lingkungan hidup, economic finance, response sosial anak anak muda, pembahasan tentang media dan perempuan, serta remaja dan media baru, seperti blog, facebook, dan sejenisnya.

Acara diadakan DartmouthHouse, Mayfair,London ini, bekerjasama dengan Faith Regent Foundation dan
Asian Strategy & Leadership Institute (ASLI).) yang berbasis di Malaysia.


Banyak catatatan tentang dialog sehari ini, mereka yang datang terutama yang muda muda berumur 30 dan 40, mempunyai pandangan dan kecakapan berbicara yang luar biasa, dan mengagumkan. Beberapa adalah pasangan muda, misalya Ali Aslan dan Istrinya yang menurut saya mempunyai pendangan dan kemampuan intelektual yang baik sebagai leader Muslim. Saya juga kagum dengan pasangan muda Mr Mirza Sarajkić Assistant Lecturer of Modern Arabic Literature and Middle East Studies Faculty of Philosophy,
University of Sarajevo dan istrinya Amineh Sarajkić dari Sarajevo Bosnia. Pasangan muda ini sungguh mengagumkan, membawa anaknya yang masih enam bulan, dalam kereta sehingga masuk kedalam gedung pertemuan House of Common di Westerminster, dalam simposium kami tanggal 27 September di gedung Parlemen yang berusia 500 tahun itu.Saya bilang Hamzah Sarajkic, merupakan visotor muda House of Common kali ini.

Foto-foto WLMF 26-27 September di Facebook
 

Saya membawakan makalah sebagai 'keynote speak" dengan judul
Solving the Problems: Youth response to Sustainable Development. Peserta lain adalah Mr Hayu Prabowo dari MUI  yang membawa makalah Sustainable socio economic development yang membicarakan tentang green economy and green banking dan praktik Islamic Banking di Indonesia. 

Mudah mudahan saya cukup waktu untuk menuliskan artikel tentang kegiatan ini dalam waktu dekat. 
Wassalam! 

Link Terkait:

Speakers Profile World Muslim Leadership Forum 

Berita:

Thursday, July 19, 2012

Majelis Ulama Indonesia dan Pemuliaan Lingkungan

Sejak bulan September tahun 2010, Majelis Ulama Indonesia (MUI) membuat sebuah lembaga khusus dalam menangani soal lingkungan. 

Lembaga ini mempunyai dua tujuan seperti tertuang dalam Visi dan Misinya:Pertama, secara visi:  mengembalikan kepada ajaran Islam dalam pengelolaan lingkungan hidup dan pemanfaatan sumber daya alam melalui pembinaan umat Islam yang berkualitas tinggi (khaira Ummah) dan berakhlak mulia (akhlakul karimah) sehingga terciptanya kondisi kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan yang baik, serta memperoleh ridlo dan ampunan Allah SWT (baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur). 

Kedua, (Misi) Meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan keislaman dalam pengelolaan lingkungan hidup dan pemanfaatan sumber daya alam yang tercermin dalam tindakan dan perilaku kehidupan sehari-hari yang mengacu kepada keseimbangan antara imtaq (iman dan taqwa) dan ipteks (ilmu pengetahuan, teknologi dan seni). 

Lembaga baru ini dipimpin oleh  Hayu Prabowo, kandidat doktor ekonomi Islam,  didampingi oleh 18 pakar yang membidangi lingkungan sari ahli tata ruang hingga ahli perikanan. Sungguh baik sekali upaya ini, mudah-mudahan lembaga ini dapat membantu umat secara progresif mentarjemahkan tujuan syariah (maqasid al shariah) kedalam implementasi sehari hari dalam kerangka lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Hemat saya, terjemahan aksi lingkungan umat Islam terhadap masalah kekinian sangat teringgal jauh padahal pedoman sangat diperlukan terkait dengan kompleksitas persoalan yang bertali temali antara satu dengan yang lain.  Secara sederhana, mestinya penyelesaian dan tanggapan terhadap soal lingkungan tidak diobati secara parsial, tetapi membuat kerangka strategis dari tali temali yang rumit itu.

Kerusakan hutan dan pencemaran, terjadi atas dukungan sistem ekonomi yang tidak diawasi implementasinya secara shariah. Jadi, ekonomi Islam pun --dalam Islamic Banking---mestilah memasukkan unsur dimensi lingkungan sebagai prasyarat: Misalnya, untuk pengucuran kredit dan bantuan perbankan.  

Tentunya, sebagai sebuah lembaga baru yang memiliki potensi kuat dalam mendukung pembangunan lingkungan. Lembaga ini diharapkan dapat sangat independen dalam berbagai hal sehingga, kemuliaan dan kehormatannya dapat terpelihara dan mempunyai kredibilitas tinggi. Ketentuan independensi pendanaan, misalnya, jangan didapatkan dari sumber yang terkesan menjadi sponsor. 

Saluran pendanaan, dapat diambil dari pengendalian dan penyaluran zakat yang mestinya tidak hanya disalurkan kepada asnab delapan saja. Sebab masalah lingkungan sudah menempati  kepentingan hajat seluruh kehidupan ummat. Pendanaan di dunia muslim masih belum banyak berkembang dinamis, termasuk dalam hal pengembangan philantropi (dana amal) yang lain yang dapat disalurkan untuk perawatan lingkungan dan pembangunan kelembagaan yang mengawasi penyelenggaraan lingkungan. 
First Congress for Islamic Philantrophy di Istanbul tahun 2008, telah memberikan petunjuk bahwa lingkungan harus masuk pada lini ini. 

Tentunya sebagai aktifis lingkungan kita berharap pada lembaga seperti untuk memperkuat posisinya dengan langkah langkah antara lain:

  1. Memperkuat kelembagaan dengan penyelenggaraan program-program rutin diskusi pakar yang 18 orang tersebut. Sehingga dibuahkan pemikiran yang dinamis tentang Islam dan Lingkungan.
  2.  Memperkuat posisi kelembagaan untuk mendapatkan pendanaan yang memadai dengan sumber-sumber yang jelas dan transparan dari sumber sumber umat Islam sendiri yang independen dan sah.
  3.  Membuat program makro yang terkait dengan dimensi pembangunan berkelanjutan, yaitu dimensi ekonomi, sosial dan ekologi.
  4. Membuat prinsip-prinsip etika Islam dalam dimensi Islam dengan rumusan yang universal, kemudian rumusan yang implementatif bagi umat Islam di Indonesia.
  5.  Membuat dan bekerjasama dengan lembaga-lembaga Islam seperti Universitas Islam, kajian Islam dan Lingkungan secara mendalam.
  6.  Membuat pilot-pilot proyek yang dapat mendemontrasikan tentang dimensi Islam dan lingkungan.

Tentu saja kita sangat berharap banyak kontribusi besar lembaga ini sebagai salah satu pengemban amanah dalam ikut melestarikan lingkungan hidup sebagai warisan kemanusiaan dan amanah Allah swt. Indonesia akan menjadi contoh dunia Muslim yang lain apabila melalui lembaga ini ternyata muncul pengaruh signifikan terhadap gerakan lingkungan di dunia.

Wallahu a'lam
 

LINK TERKAIT:

Fatwa MUI tentang Pertambangan Ramah Lingkungan

Fatwa MUI Kalimantan tentang Illegal Logging dan Mining



"Penambangan dan penebangan yang merusak merugikan masyarakat dan negara adalah  haram dan uang yang diperoleh dari usaha tersebut adalah tidak sah."
  

     

Ramadhan dan Lingkungan

Selamat menunaikan ibadah puasa!
Sekitar 1.6 milyar umat Islam di dunia menyambut puasa dengan kegembiraan, diharap juga ada perubahan perilaku dalam memberikan kontribusi pada lingkungan. Salah satu kewajiban umat Islam ini memberikan kita kesempatan untuk kembali membaca Al Qur'an (reference), merenung (reflect) dan menyesali (regret) pada kebiasaan kita selama ini, yang mungkin boros terhadap sumber daya alam, tidak arif dalam memanfaatkan sumber-sumber kehidupan sehingga banyak yang sia sia dan mubazir dalam menggunakan sumber-sumber daya tersebut.

Puasa sesungguhnya sangat mendekatkan kita pada makna pengurangan dan cara menahan diri sekaligus sebuah pelajaran berharga tentang gaya hidup dan upaya berbagi. Ramadhan mengajarkan cara menahan diri dan self-correction yang berharga. Puasa dapat mencerminkan gugatan atas perilaku menyimpang manusia, seolah-olah Tuhan tidak melihat. Dengan puasa kita mampu untuk jujur terhadap diri sendiri, tidak mencuri untuk berbuka, yang berarti tidak berani untuk membohongi diri sendiri.

Alangkah baiknya gaya hidup puasa ini kemudian menjadi pedoman pula bagi kita ikut berkontribusi menyelamatkan bumi? Umat Islam walaupun bagian dari sebuah perahu yang bernama bumi, tetapi dapat menjadi solusi sekaligus penyebab. Dengan puasa bisa kita merefleksikan sebuah solusi pada kearifan untuk tidak melakukan pemborosan terhadap sumber daya alam, termasuk pola makan, perilaku konsumerinstis, hedonis dan memberhalakan materi.

Puasa memberikan kesempatan untuk merenung, bahwa planet bumi kita adalah terbatas, bukan tak terbatas dan tidak mengkonsumsi sesuatu secara berlebih-lebihan, sebab sumberdaya yang diciptakan pun terbatas. Oleh sebab itu, wajarlah Al Qur'an mengingatkan:

"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (Qs 7:31)

Selamat berpuasa!

Link Terkait:

Gaya Hidup Menghadapi Perubahan Iklim

Green Ramadhan


Thursday, June 14, 2012

UNAS – ARC, Luncurkan Buku Haji Ramah Lingkungan Versi Indonesia


Dr. Husna Ahmed and Dr Fachruddin Mangunjaya, menjelaskan
tentang asal usul buku dan tujuannya, saat peluncuran.
Jakarta (UNAS) - Upaya mitigasi atau pengurangan atas dampak perubahan iklim harus melibatkan semua sektor sebagai suatu gerakan yang kompak, agar hasil yang dicapai untuk mengubah perilaku manusia terhadap konsumsi sumber daya alam dan implementasi gaya hidup lebih “hijau” dapat terwujud. Untuk itulah, kalangan umat beragama dapat berkontribusi untuk menyumbangkan langkah nyata, diantaranya adalah pembuatan Buku Petunjuk “Haji Ramah Lingkungan”.


Buku Panduan Haji Ramah Lingkungan, pada tanggal 2 November 2011 lalu telah ada dalam versi bahasa Inggris berjudul “The Green Guide for Hajj and Islam and Water” yang diluncurkan oleh Global One 2015 dan Eco Muslim pada Sacred Land Launch and Celebration of the Green Pilgrimage Network di Assisi, Italia, dan pada kesempatan kali ini, untuk pertama kalinya buku yang ditulis oleh Dr. Husna Ahmad, OBE tersebut diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nasional bekerjasama dengan Alliance of Religion and Conservation (ARC), United Kingdom. Kehadiran buku ini pun mendapat sambutan dan dukungan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

Dalam sambutan awal buku itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr. K.H. Ma’ruf Amin mengungkapkan bahwa Islam sangat menganjurkan perawatan lingkungan, karena bumi ini merupakan anugerah  Allah swt dan manusia sebagai Khalifah diminta untuk menjaga dan memeliharanya sebagai amanah, dan kita diminta untuk melakukan hal yang lebih baik, tidak berlebihan (melampau batas). 

“Buku Haji Ramah Lingkungan ini merupakan panduan singkat tentang ajaran Islam mengenai konservasi lingkungan bagi setiap orang yang berniat menunaikan ibadah Haji dan Umrah. Panduan ini juga memuat rekomendasi bagi Pemerintah dan Lembaga terkait untuk mewujudkan Haji dan Umrah yang lebih “Hijau” atau lebih “Ramah Lingkungan”,” papar salah satu penulis dan editor Buku The Green Guide for Hajj Edisi Bahasa Indonesia yang juga merupakan salah satu dosen Fakultas Biologi UNAS, Dr. Fachruddin Mangunjaya, pada rapat persiapan Peluncuran Buku dan Seminar Nasional Haji Ramah Lingkungan di Ruang LPPM Unas, Blok III Lantai 3, Kamis (7/6).
 

Pada kesempatan yang sama, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nasional, Prof. Dr. Ernawati Sinaga, M.S.,A.Pt mengungkapkan peluncuran buku tersebut merupakan hal positif yang dapat dijadikan sebagai langkah awal institusi Perguruan Tinggi dalam berkontribusi dengan masyarakat luas untuk perubahan perilaku lingkungan.


“Aksi nyata baik di tingkat individual maupun kolektif untuk memperbaiki lingkungan kita sangat diperlukan,” imbuh Prof. Sinaga. Sebagai salah satu contoh aksi nyata yang dijelaskan oleh Prof. Erna berdasarkan buku tersebut adalah dengan cara menanam pohon di tanah air. Pasalnya, dengan penanaman pohon itu dapat ‘menetralkan’ emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang dihasilkan dari ratusan ribu ton bahan bakar minyak pesawat untuk menerbangkan jamaah haji.
 

“Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang akan dilepaskan ke atmosfer itu akan berperan dalam penebalan selaput bumi dan menjadi penyebab adanya pemanasan global.  Oleh karena itu, emisi GRK nya lah yang harus dinetralkan oleh para jamaah haji,” ujar Prof. Sinaga. 

Buku yang dijadikan sebagai upaya mewujudkan Rencana Aksi Tujuh Tahun Mulim untuk Perubahan Iklim (Muslim Seven Year Action Plan on Climate Change) yang dikembangkan melalui kerjasama antara Alliance of Religion and Conservation (ARC) dengan United Nation Development Program (UNDP), secara resmi akan diluncurkan dalam versi bahasa Indonesia pada tanggal 14 Juni 2012 di Ruang Seminar Universitas Nasional, Selasar Blok I Lantai 3. Rencananya kegiatan tersebut akan dibarengi dengan Seminar Nasional Haji Ramah Lingkungan dihadiri oleh pembicara yaitu Drs. Ahmad Kartono,MS, Direktur Pelayanan  Haji dan Umrah Republik Indonesia, Dr Armi Susandi, Deputy Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), Ir Hayu Prabowo, MHum, Direktur Pemuliaan Lingkungan dan Sumber Daya Alam  Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Penulis Utama The Green Guide for Hajj, Dr. Husna Ahmed, OBE.    Mth/Lin