Tuesday, November 20, 2007

Umat Islam Indonesia Kabar Gembira Bagi Bumi

”Kalau Indonesia dekat, saya datang tiap hari ke sini,” kata Fazlun M Khalid, pendiri Islamic Foundation for Ecology and Environmental Sciences (IFEES) di Birmingham, Inggris. Pekan lalu, kakek enam cucu ini hadir di Indonesia. Ia juga bertamu ke Republika. Berikut sebagian pandangan penyuka masakan padang yang murah senyum itu:

Bagaimana pandangan Anda tentang Indonesia?
Saya pikir Indonesia memberikan kabar yang menggembirakan bagi masyarakat internasional. Di luar bencana tsunami, gempa bumi, banjir lumpur, tenggelamnya kapal laut, dan penggundulan hutan, tahun ini Indonesia memberikan kabar yang menggembirakan. Yang saya maksud adalah keluarnya fatwa mengenai pemanasan global pada pertengahan tahun ini dan dua fatwa pada tahun sebelumnya yang menentang pembakaran dan penggundulan hutan. Menurut saya, fatwa ini sangat luar biasa dan menunjukkan betapa ulama Indonesia telah membuat lompatan maju dibanding ulama di negara Islam lainnya. Fatwa ini jelas merupakan kekuatan yang luar biasa. Karena setelah Islam kerap dikaitkan dengan terorisme, masyarakat internasional ingin mendengar, ingin mengetahui berita seperti ini dari umat Islam. Bahwa Islam juga berbicara mengenai lingkungan.

Dan, yang penting lagi, fatwa ini telah mengubah pandangan Barat terhadap fatwa itu sendiri. Anda tahu bagaimana Barat mulai mengenal fatwa? Ketika Salman Rushdie menerbitkan bukunya, Satanic Verses pada 1989 disusul dengan keluarnya fatwa Ayatullah Khomeini yang menghalalkan kematiannya. Dari sini Barat memahami fatwa sebagai perintah untuk membunuh seseorang.

Berdiri pada pertengahan 1980-an, IFEES meneguhkan diri sebagai lembaga yang mendekati isu-isu lingkungan hidup dengan prinsip-prinsip Islam. Untuk mendukung misinya, IFEES mempunyai kegiatan yang mencakup penelitian dan diseminasi informasi, penerbitan jurnal dan buku mengenai lingkungan, pelatihan, dan memberikan pedampingan bagi proyek-proyek lingkungan yang semuanya didedikasikan untuk menjamin kelangsungan bumi sebagai planet yang aman bagi generasi selanjutnya.

Fatwa mempunyai kekuatan yang luar biasa tetapi tidak semudah itu menjalankannya, termasuk memicu kesadaran pada lingkungan.
Memang. Kita tidak bisa berhenti dengan fatwa ini tetapi harus mampu membuat fatwa itu bertenaga. Bayangkan dampaknya jika khatib shalat Jumat mengatakan menebang pohon itu haram, maka jamaah akan meresapkan kalimat itu dalam hatinya dan menggerakkan pikiran. Di lain pihak bersinergi dengan politisi adalah salah satu jalannya karena fatwa itu juga harus digulirkan menjadi sebuah proses politik.

Isu lingkungan bukanlah sesuatu yang mudah karena penebangan hutan juga terkait dengan pemenuhan kebutuhan mendasar.
Memang, tetapi harus kita coba. Dan, jangan lupa perubahan iklim dan pemanasan global itu berdampak langsung pada manusia dan dialami saat ini juga. Siapa yang merasakan kebanjiran, kita juga. Saya pikir ulama mempunyai potensi lebih dalam menggerakkan umat. Bayangkan saja mereka mengatakan menebang sebuah pohon itu haram dibandingkan dengan politisi yang mengatakan kalimat itu. Atau, bandingkan juga dengan politisi yang mengatakan dipangkasnya subsidi BBM untuk mengurangi pemanasan global dibanding ulama yang mengatakan jangan boros dan kurangi pemakaian bahan bakar.

Bapak tiga anak ini enam kali mengunjungi Indonesia. IFEES yang ia dirikan memiliki proyek kerja sama di Jawa Barat, Sumatra Barat, dan Nanggroe Aceh Darussalam. Ia memuji Indonesia yang disebutnya memberikan kabar menggembirakan bagi masyarakat internasional dalam usaha memerangi pemanasan global. Umat Islam yang jumlahnya mencapai seperlima dari populasi penduduk bumi, katanya, mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menyelamatkan kehidupan. ”Muslim adalah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah,” ujar lelaki kelahiran Pakistan (sic! beliau Kelahiran Sri Langka-Editor web) ini.

Pertanyaan ini mungkin jauh dari serius, mengapa Anda memilih menekuni isu-isu mengenai ekologi dan lingkungan hidup?
Anda bertanya mengapa saya memilih bidang ini.Jawabannya singkat, karena kita adalah Muslim dan kita adalah khalifah dan penjaga yang ditunjuk oleh Allah SWT di muka bumi.

Anda ingin mengatakan betapa dekatnya Islam dengan lingkungan?Sudahkah kita menjalankan tugas yang diamanahkan Allah SWT itu?
Tidakkah Anda merasa tercerabut dari lingkungan hidup kita. Apa yang kita lakukan selama ini hanyalah sesuatu yang bermotif ekonomi yang mengubah dan merusak keseimbangan alam semesta itu sendiri karena ekonomi mempunyai sistem yang sifatnya mendominasi. Sementara Allah menciptakan manusia sebagai proses penciptaan alam semesta itu sendiri dan memberikan nikmat berupa alam semesta dan memberikan amanah sebagai khalifah (QS 16: 65-69). Surat Arrahman, khususnya ayat 1-12, adalah ayat yang luar biasa indah untuk menggambarkan penciptaan alam semesta dan tugas manusia sebagai khalifah. Dan Anda juga harus ingat bahwa Islam sendiri berarti penyerahan, sebuah arti yang juga lawan dari dominasi.

Apakah Anda menilai tsunami, gempa bumi, dan bencana alam lainnya di Indonesia itu sebagai bentuk hukuman karena telah merusak alam dan tidak menjalankan tugas sebagai khalifah?
O, saya tidak setuju sama sekali. Pertama kita harus melihatnya sebagai bencana alam dan sebagai bencana yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Tetapi saya melihatnya lebih sebagai ujian yang diberikan Allah SWT kepada umatnya dan bagaimana kita mereaksinya.
( indah wulanningsih )/ Dikutip dari REPUBLIKA 19 November 2007