Thursday, March 26, 2009

Pesantren Konservasi Kiyai Basith

Orangnya kalem, klimis, bersih tetapi mempunyai tangan dingin menanam pohon dan telah berhasil memanen. Itulah Kiyai Basith, mungkin perlu dicontoh oleh pesantren lain. Saya pernah menceritakan di blog ini bahwa saya juga belajar dari beliau, kemarin kegiatan beliau di Pesantren Al Amin, diliput oleh berbagai media Nasional.

Lihat berita berikut ini:

SUKABUMI, KOMPAS.com - Pesantren Al-Amin pimpinan KHR Abdul Basith di Sukabumi, Jawa Barat, menggandeng Aqua, produsen air mineral di daerah itu, untuk menggalakkan konservasi lingkungan dengan pola organik. Sepanjang Jumat (20/3), lahan tidur dan lahan pekarangan milik pesantren dan warga di desa Giri Jaya, Tangkil, dan Babakan Pari ditanami ribuan pohon sengon.

"Gerakan pesantren dan kampung konservasi ini, menjadi bagian program konservasi jangka panjang dari Gunung Salak Lestari. Kegiatan konservasi organik ini melibatkan tiga pesantren, yaitu Pesantren Daarussalam di Desa Girijaya, Pesantren Daarul Falah di Tangkil, Pesantren Dzurunnain di Babakan Pari, serta kampung Manglid," kata Abdul Basith.

Abdul Basith menjelaskan, di sela pohon sengon akan ditumpangsarikan tanaman muda, sesuai keinginan masyarakat, yang hasilnya diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program konservasi mencak up beragam kegiatan, antara lain menjalin kemitraan dengan universitas atau lembaga swadaya masyarakat untuk memberikan pelatihan cara membuat pupuk kompos, penyuluhan peternakan, pembibitan benih, dan di masa depan membantu pemasaran hasil pertanian organik. >>>Seterusnya

berita lainnya: http:

Pesantren Konservasi di Sukabumi

Pesantren Gunung Salak (Harian Pelita)

Tanam sengon sambut hari air sedunia

Monday, January 5, 2009

Etika Islam Terhadap Lingkungan

Oleh: Fachruddin M. Mangunjaya (Dikutip dari KORAN TEMPO)

Pencinta lingkungan

Dalam Oktober ini, penulis dua kali diundang mengikuti pertemuan dengan topik peran dunia muslim terhadap lingkungan. Pertama, pertengahan Oktober, di Oxford Centre for Islamic Studies, yang membahas isu Islam dan lingkungan secara keseluruhan, dan kedua di Kuwait, membahas Islam dan Perubahan Iklim (Islam and Climate Change ) yang diadakan pada akhir Oktober.

Selanjutnya >>>>

Thursday, October 23, 2008

Fatwa for the Environment

You may interest with the new phenomena of Fatwa (Edict) by the Ulama' in Kalimantan to halt the haze of the burning forest, illegal logging and mining. I am confince together with the goverment, the ulama in Indonesia could reduce the environmental degradation by changing the perceptions and the behavioral change of the community.

Please have a look of this Pdf file Newsletter of Eco-Islam published by IFEES Just recently.

Happy reading!

Wednesday, September 17, 2008

MUSLIM REDUCE THEIR CARBON FOOTPRINTS - GREEN GUIDE FOR MUSLIMS

A green guide to help Muslim households reduce climate change has been published jointly by Lifemakers UK and the Islamic Foundation for Ecology and Environmental Sciences (IFEES), with Muslim Hands, the Nottingham based charity meeting production costs. The booklet explains the impact of climate change using Islamic references and also explains why Muslims must do their bit for the environment.

The Green Guide is unique in that it is a simple, practical handbook that looks at different aspects of the Muslim household and suggests changes that can have a big impact on climate change. These include decisions about domestic food, water, laundry, heating, electricity, transport and recycling.

At the end of the 20 page booklet is also a ‘How green is my family’ checklist that gives households something positive to aim towards. The booklet has been printed in time for Ramadan, the month in which Muslims are most reflective of their actions.

For more information about the Green Guide please contact Raja on 07956 983 609 or Shaid on 0787 969 4540 or e-mail IFEES at info@ifees.org.uk or visit the website at www.ifees.org.uk

Tuesday, August 19, 2008

The Greening of Islamic Politics

By Saleem H. Ali, Haris N. Hidayat

Quoted from: http://www.policyinnovations.org/ideas/innovations/data/000068

Change Conference in 2007, Indonesia welcomed the world to the idyllic island of Bali as a venue to reach agreement on one of the most challenging environmental issues. Several years prior, the island had been the scene of the worst series of terrorist bombings in the region, killing more than two hundred people. These attacks, which were carried out by Muslim militants, further stigmatized and marginalized Islamic political parties in the international community.

In particular, Indonesia's pesantren (religious boarding schools) came under great scrutiny due to their perceived connections to some of the Bali bombers. Even U.S. presidential hopeful Barack Obama felt obliged to distance himself from his childhood days in Indonesia because of a rumor that he had attended a pesantren, since both his father and stepfather were Muslim. Yet a closer analysis of the political scene in this sprawling country of more than 17,500 islands shows that Islamist political institutions are making a remarkably green comeback that might appear progressive even to many Western politicians.

>>>>more

Sunday, August 3, 2008

Sarasehan Peran Pesantren untuk Konservasi Alam

Dalam rangka “membangunkan” kekuatan besar untuk pelestarian lingkungan di Indonesia dengan memberikan kesadaran lingkungan bagi para Kyai maka dilaksanakan Sarasehan Kontribusi Pesantren Untuk Konservasi Alam di Bogor yang digagas dan diprakarsai oleh Religion and Conservation Initiative CI Indonesia, Yayasan Owa Jawa dan Rufford Small Grant. Sarasehan ini dihadiri oleh 30-an Kyai dan pengurus pesantren dari tiga wilayah (Bogor, Sukabumi dan Cianjur) yang berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.

Selanjutnya lihat >>>

Berita terkait:

Thursday, May 29, 2008

MEMPERINGATI HARI BUMI 2008; Lestarikan Lingkungan, Amal Jariyah

12/04/2008 11:45:15 DEPOK (KR) - Masalah lingkungan sangat kompleks dan sekarang ini dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan tidak sekadar sampah, tetapi menyangkut segala aspek kehidupan ke depan.

Hutan yang rusak telah mengubah ekologi menjadi tidak menentu dan terjadinya pemanasan global sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. “Dalam melindungi dan melestarikan lingkungan hutan ini, madrasah, pesantren, para kiai, dai sangat berkepentingan karena merupakan salah satu dari amal jariyah seperti yang diajarkan Islam dalam Alquran,” ujar Fachruddin M Mangunjaya dalam diskusi buku ‘Menanam Sebelum Kiamat: Islam, Ekologi dan Gerakan Lingkungan Hidup’, Jumat (11/4).

Diskusi buku yang diterbitkan Yayasan Obor, Conservation International Indonesia dan Islamic College For Advanced Studies (ICAS) dengan pengantar Mantan Menteri KLH Emil Salim tersebut diselenggarakan MP Bookpoint Jl Kaliurang Km 6,3, Nomor 58, Depok, Sleman. Kegiatan ini dalam rangkaian memperingati Hari Bumi 2008. Menurut Fachruddin salah seorang editor buku ini, Islam mengajarkan kepada umatnya apa yang diciptakan oleh Allah SWT di muka bumi ini supaya dipelihara, karena kawasan konservasi itu merupakan salah satu sarana ibadah.

Umat diperintahkan untuk menjaga dan mencegah dari penjarahan hutan, karena kerusakan hutan sangat fatal. “Untuk itu alangkah bijaksananya apabila dalam salat Jumat khotib memberikan ceramah tentang lingkungan, sehingga bisa diagendakan lingkungan masuk masjid. Tidak ada kata terlambat dalam melestarikan dan memelihara lingkungan, sehingga lebih digiatkan lagi salawat lingkungan,” kata Fachruddin M Mangujaya mewakili editor lainnya Husain Heriyanto dan reza Gholami.

Dari sisi yang lebih mulia lagi dalam memelihara dan menanam pohon, bila buah, bunga itu dimakan ulat, burung dan dihisap lebah merupakan dan menjadi amal jariyah bagi yang menanam dan memeliharanya. “Itu semua disebutkan dalam hadits Nabi maupun Alquran,” kata Fachruddin M Mangunjaya lulusan sarjana biologi Universitas Nasional Jakarta ini. (Asp)-n
sumber: Kedaulatan Rakyat